RSS

Upacara “WIWIT” Bentuk kesosialan Antar Petani

16 Mar

Upacara wiwit yaitu sebuah upacara atau ritual yang dilakukan oleh para petani pada saat akan menuai padi yang akan dipanen. Upacaranya yaitu dengan mengadakan selamatan dengan membuat nasi tumpeng beserta lauk pauknya. Misalnya : nasi putih yang dibuat tumpeng, ayam ingkung utuh, tempe goreng, telur rebus, ikan asin, kerupuk dan sambal kacang.

Upacara wiwit dimulai membawa nasi dan lauk pauk ke sawah yang akan dipanen. Kemudian mengumpulkan orang-orang yang ada di sekitar lokasi wiwit, lalu diajak berdoa bersama-sama untuk memohon doa restu bahwa padi dilokasi wiwit akan segera dipanen. Dan mengucapkan doa syukur kepada Allah SWT, bahwasannya telah diberi rizqi yang banyak.

Setelah doa wiwit selesai, nasi wiwit dibagi-bagikan kepada para petani yang berada ditempat tersebut dan makan bersama-sama. Sebagian dibagikan kepada masyarakat sekitar. Setelah selesai makan-makan barulah dimulai menuai padi yang dimulai oleh tokoh petani yang hadir ditempat tersebut, dan dilanjutkan kepada tenaga pemanen padi.

Upacara wiwit ini sudah ada pada masa Hindu-Budha yang memang pada awalnya untuk memperoleh kesejahteraan para Dewa. Upacara wiwit pada dasarnya diwujudkan pada pemujaan dewi padi, Dewi Sri. Sekalipun nama Sri berasal dari India, mitos itu terdapat di seluruh Nusantara sampai pulau-pulau yang sama sekali tidak tersentuh pengaruh India.

Walaupun versinya berbeda-beda, namun inti ceritanya sederhana : Sri telah dikurbankan, dan dari berbagai bagian tubuhnya keluarlah tanaman-tanaman budidaya yang utama, termasuk padi. Doa ditujukan kepada tokoh Sri yang menjelma menjadi padi.

Jikalau orang hendak menuai padi yang telah menguning, sebelumnya beberapa bulir padi dipungut dan dibentuk seperti dua orang (lambang sepasang pengantin) yang dipertemukan dan diarak pulang. Diharapkan nantinya sepasang pengantin padi akan mendatangkan panen yang baik. Petani akan mempersembahkan ikatan-ikatan padi pertama yang disimpan sampai masa penebaran benih tahun berikutnya.

Namun seiring dengan datangnya agama Islam di wilayah Nusantara dan masyarakat Jawa telah menyakini bahwa Islam menjadi agama mereka, maka upacara wiwit tersebut berubah dan menyesuaikan dengan agama Islam. Baik dalam pelaksanaan ritualnya maupun proses dalam pelaksanaannya seperti yang terjadi di dusun Candran yang telah dijelaskan diatas.

Perbedaan yang paling mencolok yaitu pada doanya, jika pada masa Hindu-Budha doa ditujukan kepada tokoh Sri atau Dewi Sri, maka setelah Islam menjadi agama masyarakat Jawa, doa tersebut berubah menjadi doa syukur kepada Allah SWT. Dan ditambah juga dengan membagi-bagikan nasi wiwit yang diberikan kepada para petani lainnya, yang itu merupakan bentuk rasa kesosialan antar petani dan sebagai bentuk syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan rizqi berlimpah.

Namun dengan berubahnya pelaksanaan wiwit pada masa Hindu-Budha dibanding dengan setelah Islam masuk ke wilayah Nusantara, tujuan wiwit itu tetap sama, yaitu agar mendapatkan hasil panen yang baik dan banyak. Oleh karena itu upacara ritual wiwit tetap berlangsung sampai saat ini di masyarakat Jawa khususnya.

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2012 in KULINER

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: